"Waktu, cepat benar berlalu...", ujar sahabat baikku di seberang meja sambil menatap awang-awang sebuah warung kopi sederhana.
Pertemuan rutin kami, memperbarui informasi kehidupan satu sama lain.
Laki-laki di seberangku ini sudah ku kenal semenjak kami menggunakan seragam. Berpeluh terkena sinar matahari. Cukup lalu.
Beberapa saat lampau, Ia mengungkapkan telah menemukan gadis pujaan. Ia akan memilihnya untuk hidup bersama - selama - lamanya.
Aku jadi teringat, sahabat-sahabat baikku tahun yang akan datang sebagian besar melepas masa lajangnya. Tak terungkap, betapa aku bahagia.
Waktu memang benar-benar cepat berlalu, pikirku. Melihat mereka tumbuh dewasa, hingga menemukan teman hidup yang setia. Pemandangan yang terngiang selalu, terrekam dalam memori bagai rangkaian film.
Seketika aku sesak dengan perasaan haru, tidak sabar untuk waktu datang dan berlalu.
Sambil menunggu, perasaan aneh muncul untuk diriku. Kosong. Melihat pada hidupku dan sosoknya yang entah kapan menjadi nyata.
Ah, tetap aku bahagia untuk mereka.
Senin, 17 Oktober 2016
Senin, 03 Oktober 2016
Si Perasa, Pengandai Logika
Dulu, ada yang pernah bilang, "Meninggalkan itu lebih mudah, daripada yang ditinggalkan."
Aku penasaran.
Kali ini aku coba pergi, tak lama ia pergi. Petualangan baruku, kata mereka.
Rasanya sama berat, ternyata. Perasaan asing tetap hinggap.
Ah, mungkin ya karena aku terlalu perasa.
---
Pagi ini aku duduk dekat jendela di Bandara.
Aku lihat ada sebuah burung besi tinggal landas.
Tiba-tiba hatiku nyeri lagi.
Aku merasa betapa burung-burung besi itu telah mengantar dan membawanya pergi.
Hingga saatnya tiba bertemu lagi. Tidak pernah pasti.
Aku yang perasa ini, ingin menitikkan lagi air mata.
Sedikit saja, masih boleh ya?
---
Aku yang perasa ini melamun.
Terlalu banyak imaji yang kucoba berikan sedikit emosi.
Dalam, jadinya.
Aku menelaah kata-kata pilihannya, pilihanku, dalam bincang kita.
Aku ingat, kala itu setengah terpejam.
Ia membawaku ke 12 tahun lalu
Saat aku menyelesaikan studi dasarku sebagai anak-anak.
Saat itu ia memulai studi pertamanya untuk berkelana menjadi laki-laki dewasa.
Bagaimana ia membaca pikiranku? Si perasa, pengandai-andai logika.
Aku penasaran.
Kali ini aku coba pergi, tak lama ia pergi. Petualangan baruku, kata mereka.
Rasanya sama berat, ternyata. Perasaan asing tetap hinggap.
Ah, mungkin ya karena aku terlalu perasa.
---
Pagi ini aku duduk dekat jendela di Bandara.
Aku lihat ada sebuah burung besi tinggal landas.
Tiba-tiba hatiku nyeri lagi.
Aku merasa betapa burung-burung besi itu telah mengantar dan membawanya pergi.
Hingga saatnya tiba bertemu lagi. Tidak pernah pasti.
Aku yang perasa ini, ingin menitikkan lagi air mata.
Sedikit saja, masih boleh ya?
---
Aku yang perasa ini melamun.
Terlalu banyak imaji yang kucoba berikan sedikit emosi.
Dalam, jadinya.
Aku menelaah kata-kata pilihannya, pilihanku, dalam bincang kita.
Aku ingat, kala itu setengah terpejam.
Ia membawaku ke 12 tahun lalu
Saat aku menyelesaikan studi dasarku sebagai anak-anak.
Saat itu ia memulai studi pertamanya untuk berkelana menjadi laki-laki dewasa.
Bagaimana ia membaca pikiranku? Si perasa, pengandai-andai logika.
Langganan:
Postingan (Atom)